Oleh: Putri Efhira Farhatunnisa (Pegiat Literasi di Majalengka)
Penguapan (evaporasi) adalah proses berubahnya zat cair menjadi gas atau uap secara spontan pada bagian permukaan ketika molekul-molekulnya mendapat energi panas yang cukup. Namun, bagaimana jika manusia yang “menguap”? Hilang tanpa jejak, meninggalkan kesunyian yang menyesakkan.
Inilah tragedi yang terjadi di Palestina hari ini. Meski masa gencatan senjata tengah diberlakukan, serangan dari Israel tetap berlangsung. Belakangan diberitakan bahwa Israel menggunakan senjata termal—senjata bersuhu ekstrem tinggi—yang membuat sedikitnya 2.842 orang lenyap seketika. Pengeboman itu hanya menyisakan tiga jasad utuh, percikan darah, dan serpihan jaringan tubuh manusia (news.detik.com, 13/2/2026).
Ribuan orang musnah tanpa meninggalkan apa pun selain duka mendalam bagi keluarga serta umat Islam di seluruh dunia. Bahkan keluarga tidak sempat memeluk jenazah, karena jasad telah hancur sebelum bisa dishalatkan. Situasi ini seharusnya menyadarkan umat Islam bahwa berharap pada solusi yang ditawarkan kekuatan Barat adalah keliru.
Salah satu contohnya adalah Board of Peace (BoP), lembaga multilateral yang dibentuk oleh Donald Trump pada 15 Januari 2026. Lembaga ini diklaim bertugas mengawasi pelaksanaan Rencana Perdamaian Gaza dan Resolusi 2803 Dewan Keamanan PBB. Ironisnya, mereka membahas masa depan Gaza tanpa melibatkan langsung mereka yang menjadi pihak utama dalam perjuangan tersebut.
Melanggengkan Penjajahan atas Palestina
Palestina adalah tanah suci umat Islam yang terus berusaha direbut oleh kekuatan penjajah. Tidak logis jika kita menggantungkan harapan pada solusi yang disusun oleh pihak yang justru mendukung penjajahan itu. Apa pun nama lembaganya, selama berada di bawah kendali pihak yang membela penjajah, maka kepentingannya akan berjalan seiring dengan tujuan penjajahan.
Mengandalkan gencatan senjata atau BoP sebagai jalan penyelesaian konflik adalah ilusi. Bahkan hal itu berpotensi mempermanenkan penjajahan, membuat penderitaan rakyat Palestina tidak berujung, bahkan terancam terusir dari tanah airnya sendiri. Sebagai umat Islam, kita memiliki tanggung jawab moral untuk membela tanah suci dan saudara-saudara kita yang dizalimi.
Saatnya Mengambil Solusi Islam
Tidak ada musuh yang dengan tulus akan menolong lawannya. Yang ada hanyalah serigala berbulu domba yang terus berupaya melemahkan. Karena itu umat Islam harus kembali kepada solusi Islam. Tidak ada tempat bersandar selain kepada Allah, dan tidak ada pelindung sejati selain penerapan ajaran Islam secara menyeluruh.
Sistem yang mengatur dunia saat ini bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Maka apa pun solusi yang dilahirkan sistem sekuler-kapitalistik, ujungnya akan merusak manusia karena dibangun atas asas kepentingan dan manfaat. Sementara Islam hadir sesuai fitrah manusia. Sayangnya, demi alasan menjaga perdamaian, banyak pemimpin Muslim enggan bersatu memperjuangkan keadilan. Sikap ini melukai hati umat di seluruh dunia. Lantas, apa yang seharusnya dilakukan?
Sistem Islam sebagai Solusi Perdamaian Sejati
Umat Islam harus bersikap tegas dan tidak terjebak dalam narasi perdamaian palsu yang justru membungkam ketidakadilan. Bergantung pada “dahan rapuh” hanya akan membawa petaka. Padahal sejarah telah membuktikan adanya solusi lain yang lebih kuat dan berpengaruh.
Persatuan politik dan kepemimpinan umat Islam adalah kebutuhan mendesak untuk menghadirkan pembelaan yang bermartabat terhadap rakyat yang tertindas. Kebangkitan nilai-nilai Islam mampu melahirkan kekuatan moral yang membuat para penindas berpikir ulang. Keyakinan inilah yang harus ditanamkan.
Umat Islam perlu yakin terhadap aturan yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ. Jika pihak yang memusuhi Islam saja begitu sungguh-sungguh menghalangi kebangkitan sistem Islam karena mengetahui kekuatannya, mengapa sebagian umat Islam justru meragukannya?
Tidak ada sistem yang mampu menjaga keadilan dan perdamaian setara dengan sistem Islam yang diwariskan Rasulullah ﷺ. Selama kurang lebih 14 abad, Islam berdiri menaungi berbagai bangsa, warna kulit, dan bahasa. Kini, yang dibutuhkan umat hanyalah membangun kembali kekuatan moral, persatuan, serta kesadaran politiknya, agar pintu menuju perdamaian hakiki kembali terbuka.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.













