banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250

Nikah Jadi Menakutkan? Luka Ekonomi yang Membesarkan Ketakutan

 

Oleh: Resa Ristia Nuraidah

banner 728x250

Pernikahan yang dulu dianggap fase alami hidup, kini berubah menjadi sumber cemas bagi banyak anak muda. Keresahan itu lahir bukan dari ketidaksiapan mental semata, tetapi dari tekanan hidup yang terasa menghimpit, membuat masa depan seolah sebuah tebing curam yang sulit ditapaki.

Kecemasan ini tumbuh dari realitas yang semakin keras: harga kebutuhan pokok melambung, biaya hunian tak terjangkau, dan dunia kerja penuh persaingan. Semua itu membentuk keyakinan baru bahwa kestabilan ekonomi jauh lebih penting dibanding segera menikah.

Dari sinilah muncul narasi “marriage is scary” yang memenuhi media sosial, berisi keluhan tentang biaya menikah, biaya melahirkan, hingga biaya membesarkan anak yang seakan tak ada akhirnya. Narasi ini menggeser cara pandang anak muda: pernikahan bukan lagi ibadah mulia, melainkan risiko ekonomi besar.

Namun, akar persoalannya ternyata lebih dalam—karena ketakutan ini bukan sekadar perasaan pribadi, tetapi luka struktural yang ditanamkan oleh sistem kapitalisme. Sistem yang membuat hidup mahal, pekerjaan langka, dan upah rendah, sehingga anak muda tumbuh dengan rasa khawatir selalu jatuh miskin.

Luka itu makin dalam karena negara seolah lepas tangan. Alih-alih menjamin kebutuhan dasar rakyat, pemenuhan kesejahteraan justru dibebankan kepada individu. Tak heran jika pernikahan dipersepsikan sebagai beban baru, bukan perjalanan yang membawa kebaikan.

Di sisi lain, gaya hidup materialis yang ditiupkan pendidikan sekuler dan media liberal menciptakan standar hidup palsu: gawai baru, skincare mahal, nongkrong di kafe. Semua ini membuat pernikahan terasa semakin jauh dari jangkauan, seolah hanya mungkin bagi mereka yang mapan.

Akibatnya, pernikahan disalahpahami sebagai proyek ekonomi, bukan rumah untuk membangun keluarga, melanjutkan keturunan, dan menanam kebaikan. Ketakutan pun tumbuh subur, sementara keberanian untuk berkeluarga semakin tergerus oleh realitas ekonomi yang menekan.

Padahal, Islam menawarkan solusi dengan memastikan negara menjamin kebutuhan dasar rakyat, membuka lapangan kerja luas, dan mengelola sumber daya alam untuk kesejahteraan bersama—bukan keuntungan segelintir pemilik modal. Ketika beban hidup turun, kecemasan pun mereda.

Kemudian penerapan pendidikan berbasis aqidah juga akan melahirkan generasi yang tidak terjebak hedonisme, sementara masyarakat dan negara menguatkan institusi keluarga agar pernikahan kembali dipandang sebagai ibadah, penjagaan kehormatan, dan sumber ketenangan.

Generasi muda tidak sedang takut menikah. Mereka takut miskin—takut gagal bertahan hidup di tengah sistem yang tidak berpihak pada rakyat kecil.
Ketakutan ini bukan lahir dari mereka, tetapi dari luka struktural yang ditanamkan oleh kapitalisme.

Saatnya menawarkan jalan keluar yang lebih manusiawi, lebih adil, dan lebih sesuai fitrah. Bukan dengan menggurui anak muda agar “lebih berani”, melainkan dengan menyediakan sistem yang membuat keberanian itu mungkin.

Jika kesejahteraan dijamin, pendidikan diperbaiki, media diarahkan, dan keluarga dimuliakan—maka pernikahan tidak lagi menakutkan. Ia kembali menjadi rumah bagi ketenangan, kasih sayang, dan masa depan umat. [Wallahu a’lam bi Ash-shawāb]


banner 336x280

Tinggalkan Balasan